
"Jatuh cinta pada pandangan pertama", "Kesan pertama itu begitu menggoda". Paling tidak dua kalimat tadi yang sering mewakili mengenai arti penting nya pandangan pertama. Pandangan pertama yang akan penulis bahas di sini bukanlah pandangan pertama yang melukiskan ketertarikan seorang pria terhadap wanita atau sebaliknya, namun pandangan pertama yang penulis maksudkan lebih kepada konteks penampilan Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta (SOETTA) yang menjadi pintu gerbang masuknya seluruh wisatawan asing yang datang dari berbagai negara.
Ketika menuliskan ini, penulis sangat minim sekali pengalaman bepergian ke luar negeri dan berkesempatan untuk melihat dan merasakan berada di bandar udara di beberapa negara. Penulis hanya pernah berada dan melihat tiga bandar udara selain SOETTA, yakni Bandar Udara Internasional Ninoy Aquino di Manila, Philippines, Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur di Malaysia dan Bandar Udara Changi di Singapore. Minimal apa yang akan penulis sampaikan melalui blog ini adalah sebuah perbandingan dari apa yang penulis telah dapatkan sebagai sebuah pengalaman.
Ketika untuk pertama kali mendarat di Bandar Udara Soekarno Hatta di Jakarta, Indonesia setelah 1 tahun berada di Manila, Philippines untuk menuntut ilmu. Rombongan penumpang yang berasal 1 pesawat dengan penulis disambut dengan antrian yang panjang untuk melewati pemeriksaan pertama dokumen immigrasi. Selanjutnya rombongan penumpang langsung menuju ke tempat pengambilan bagasi, di tempat ini langsung mulai terlihat para juru trolly menawarkan jasa mereka untuk membantu mencarikan barang dan mengangkat nya ke atas trolly hingga ke luar terminal. Terkadang dengan sikap yang sedikit memaksa untuk menggunakan jasa mereka.

Setelah mengambil semua barang atau tas, para penumpang bertemu dengan antrian yang lambat laun mulai panjang dan meletihkan, antrian itu timbul di karenakan mesin dan komputer untuk melakukan screening terakhir belum siap untuk dioperasikan. Secara kebetulan penulis berada pada posisi paling depan sehingga penulis mengetahui dan melihat dengan pasti ketidaksigapan para petugas immigrasi yang bertugas saat itu untuk mempersiapkan mesin screening atau pendeteksi, padahal mereka tahu persis, bahwa para penumpang yang telah mendapatkan barang bawaannya akan segera keluar melalui pintu di mana mereka bertugas untuk menjalankan pemeriksaan terakhir, tetapi apa dikata, antrian yang panjang, melelahkan dan membosankan tidak bisa dielakkan oleh karena ketidaksigapan para petugas. Setidak nya terdapat 4 mesin tetapi hanya 1 mesin yang dioperasikan tidak tahu apa alasannya, mungkin penulis berasumsi karena penerbangan kami, adalah penerbangan yang terakhir untuk hari itu, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 1 am.
Selanjutnya setelah keluar dari jebakan antrian untuk pemeriksaan terakhir, para penumpang keluar dari terminal dan di pintu gerbang sudah di sambut oleh kesemrautan para supir taksi menawarkan jasa mereka, dengan sikap yang memaksa. Pada saat itu penulis melihat beberapa orang wisatawan dari Eropa marah, dan membentak untuk mengekspresikan kekesalan mereka karena terus diikuti dan dipaksa untuk menggunakan jasa taksi tertentu.

Sungguh rangkaian kejadian itu membuat penulis sebagai warga negara Indonesia menjadi malu, mengapa rangkaian ketidakteraturan ini juga dan masih saja terjadi di bandar udara interansional yang menjadi pintu gerbang Indonesia terhadap dunia. Ini semua sangat kontraproduktif dengan kampanye peningkatan kunjungan wisata ke Indonesia yang di gaungkan oleh pemerintah. Apakah pemerintah tidak menganggap penting keteraturan di bandar udara? apakah pemerintah tidak mendeteksi kesemrawutan yang terjadi? ketidaknyamanan yang ada di SOETTA? jika jawabannya tidak maka semuanya hanyalah omong kosong dan kepura-puraan belaka, karena praktek percaloan dan ketidak tertiban di SOETTA jelas dan massif terjadi, itu faktanya.

Pemandangan serupa tidak penulis temui ketika penulis mendapatkan kesempatan untuk menghadiri seminar di Malaysia dan Singapura dan ketika penulis kembali ke Manila untuk melanjutkan study. di Singapore suasana bandar begitu sangat tertib dan teratur, begitu pertama kali menginjakkan kaki di Changi di Singapore, tidak ada kebingungan dan kesemrawutan yang penulis rasakan, penulis merasakan kenyamanan karena semuanya teratur dengan jelas dengan petunjuk yang jelas. demikian juga ketika penulis berada di Kuala Lumpur international airport semuanya teratur dengan rapi dan petunjuk yang jelas, tidak ada calo, antrian yang berjalan normal, meskipun di kedua negara ini sedikit senyuman tetapi semuanya berjalan secara professional, kebalikan ketika penulis di SOETTA banyak sekali yang mengeluarkan senyuman dan sapaan hanya karena untuk merayu mereka menggunakan jasa mereka, yang pada akhirnya, senyuman itu berubah menjadi muka yang masam, dan tidak jarang mengeluarkan kata-kata yang tidak bersahabat ketika kita tidak mau menggunakan jasa mereka. Dan ketika penulis berada di Ninoy Aquino international Airport di Manila, Philippines. Penulis juga harus mengatakan ketertiban dan keteraturan lebih baik di bandar udara ini dari pada di SOETTA, itulah yang dapat penulis rasakan, semuanya berjalan professional tidak ada penyambutan oleh juru trolly dan para supir taksi yang memaksa.

No comments:
Post a Comment